Guna SOSIAL AGAMA

Sebagaimana institusi sosial yang lain, agama pula mempunyai guna yang sangat urgen untuk warga. Guna ini sangat berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan manusia buat mempertahankan kelangsungan hidup serta pemeliharaannya. Secara sosiologis, pengaruh agama dapat dilihat dari 2 sisi, ialah pengaruh yang bertabiat positif ataupun pengaruh yang menyatukan( integrative factor) serta pengaruh yang bertabiat negatif ataupun pengaruh yang bertabiat destruktif serta memecah- belah( desintegrative factor).

Ulasan tentang guna agama disini hendak dibatasi pada 2 perihal ialah agama bagaikan aspek integratif serta sekalian disintegratif untuk warga.

1. Guna Integratif Agama

Peranan sosial agama bagaikan aspek integratif untuk warga berarti kedudukan agama dalam menghasilkan sesuatu jalinan bersama, baik diantara anggota- anggota sebagian warga ataupun dalam kewajiban- kewajiban sosial yang menolong mempersatukan mereka. Perihal ini disebabkan nilai- nilai yang mendasari sistem- sistem kewajiban sosial didukung bersama oleh kelompok- kelompok keagamaan sehingga agama menjamin terdapatnya konsensus dalam warga. Perihal ini terus menjadi diperkuat dengan terdapatnya konsep sakral yang melingkupi nilai- nilai keagamaan sehingga perihal tersebut tidak gampang buat dirubah serta mempunyai otoritas yang kokoh di warga.

Dengan mendasarkan pada perspektif fungsionalis, Thomas F. O’ Dea mengatakan kalau agama mempunyai guna dalam sediakan 2 perihal. Awal, sesuatu cakrawala pemikiran tentang dunia luar yang tidak terjangkau oleh manusia( beyond). Kedua, fasilitas ritual yang membolehkan ikatan manusia dengan perihal diluar jangkauannya, yang membagikan jaminan serta keselamatan untuk manusia. Lebih jauh, dengan mendasarkan pada 2 perihal diatas, dia mengatakan 6 guna agama bagaikan berikut:

a. Agama mendasarkan perhatiannya pada suatu yang terletak di luar jangkauan manusia yang mengaitkan takdir serta kesejahteraan, agama sediakan fasilitas emosional berarti yang menolong manusia dalam mengalami ketidakpastian.

b. Agama menawarkan sesuatu ikatan transendental lewat pemujaan serta upacara peribadatan, karenanya agama membagikan dasar emosional untuk rasa nyaman baru serta bukti diri yang lebih kokoh ditengah keadaan ketidakpastian serta ketidakmungkinan yang dialami manusia ahli nesia .

c. Agama mensucikan norma- norma serta nilai- nilai warga yang sudah tercipta, mempertahankan dominasi tujuan kelompok diatas kepentingan orang serta disiplin kelompok diatas dorongan hati orang. Denagn demikian agama berperan buat menolong pengendalian sosial, melegitimasi alokasi pola- pola warga sehingga menolong kedisiplinan serta stabilitas.

d. Agama pula melaksanakan guna yang berlawanan dengan guna kebalikannya, ialah membagikan standar nilai dalam makna dimana norma- norma yang telah terlembaga dapat dikaji kembali secara kritis cocok dengan kebutuhan warga, paling utama agama yang menitikberatkan pada transendensi Tuhan serta pada warga yang mapan.

e. Agama melaksanakan fungsi- fungsi bukti diri yang berarti. Lewat peranserta manusia dalam ritual agama serta do’ a, mereka pula melaksanakan unsur- unsur signifikan yang terdapat dalam identitasnya. Dalam periode pergantian serta mobilitas sosial yang berlangsung kilat, sumbangan agama terhadap bukti diri jadi terus menjadi besar. Salah satu contoh tentang perihal ini dikemukakan oleh Will Herberg lewat studinya tentang sosiologi agama Amerika di tahun 1950- an, dimana salah satu metode berarti dimana orang Amerika membentuk identitasnya merupakan dengan jadi salah satu anggota dari“ 3 agama demokrasi”, ialah: Protestan, katholik, serta Yahudi.

f. Agama pula berfungsi dalam memacu perkembangan serta kedewasaan orang, dan ekspedisi hidup lewat tingkatan umur yang didetetapkan oleh warga agama .

Dari keenam guna yang dijalankan oleh agama diatas, terlihat kalau agama mempunyai kedudukan yang urgen tidak cuma untuk orang namun sekalian untuk warga. Untuk orang, agamaberperan dalam mengidentifikasikan orang dengan kelompok, menghibur kala dilanda kecewa, menguatkan moral, serta sediakan unsur- unsur bukti diri. Sebaliknya untuk kehidupan bermasyarakat, agama berperan memantapkan kesatuan serta stabilitas warga dengan menunjang pengendalian sosial, menopang nilai- nilai serta tujuan yang mapan, serta sediakan fasilitas buat menanggulangi kesalahan serta keterasingan.

2. Guna Disintegratif Agama

Walaupun agama mempunyai peranan bagaikan kekuatan yang mempersatukan, mengikat, serta memelihara eksistensi sesuatu warga, pada dikala yang sama agama pula bisa memainkan peranan bagaikan kekuatan yang mencerai- beraikan, memecah- belah apalagi menghancurkan eksistensi sesuatu warga. Perihal ini ialah konsekuensi dari begitu kuatnya agama dalam mengikat kelompok pemeluknya sendiri sehingga acapkali mengabaikan apalagi menyalahkan eksistensi penganut agama lain. Pada bagian ini, pembicaraan tentang guna disintegratif agama hendak lebih memfokuskan atensi pada sebagian wujud konflik sosial yang bersumber dari agama.

Hendropuspito paling tidak mencatat 4 wujud konflik sosial yang bersumber pada agama, ialah:

a. Perbandingan doktrin serta perilaku mentalDalam konteks ini, konflik bagaikan kenyataan sosial mengaitkan minimun 2 kelompok agama yang berbeda, bukan cuma sebatas konstruksi khayal semata melainkan bagaikan suatu kenyataan sejarah yang acapkali masih terjalin sampai dikala ini. Konflik yang timbul lebih banyak diakibatkan oleh terdapatnya perbandingan doktrin yang setelah itu diiringi oleh perilaku mental yang memandang kalau cuma agama yang dianutnyalah yang mempunyai kebenaran( claim of truth) sebaliknya yang lain sesat, ataupun paling tidak kurang sempurna.

Klaim kebenaran inilah yang jadi sumber timbulnya konflik sosial yang berlatarbelakang agama, terlebih pada biasanya klaim kebenaran diiringi oleh timbulnya perilaku kesombongan religius, prasangka, fanatisme, serta intoleransi. Sikap- sikap tersebut sedikit banyak sudah menutup sisi rasional yang sesungguhnya dapat dibesarkan buat membangun silih penafsiran antar penganut agama. Acapkali sisi non- rasional serta supra- rasional, yang memegang peranan berarti dalam agama, dijadikan bagaikan senjata buat menolak argumentasi rasional yang terdapat. Realitas inilah yang ikut membagikan donasi hendak eksistensi sikap- sikap tersebut.

Baca Juga : Panduan Perawatan Kulit Anti Penuaan

b. Perbandingan suku serta ras penganut agama

Walaupun tidak sedikit fakta yang menampilkan kalau agama mempunyai kedudukan dalam mempersatukan orang- orang yang mempunyai perbandingan suku serta ras, tetapi kita pula tidak dapat membantah kalau acapkali perbandingan suku serta ras memunculkan konflik sosial. Apabila perbandingan suku serta ras saja sudah lumayan buat menimbulkan konflik sosial, hingga masuknya faktor perbandingan agama pastinya hendak terus menjadi mempertegas konflik tersebut. Perihal ini dapat kita amati dari kenyataan sejarah kalau bangsa kulit putih yang notabene beragama Kristen merasa jadi bangsa opsi yang ditugaskan buat mempersatukan kerajaan Allah di dunia dengan menaklukkan bangsa lain yang non- Kristen.

c. Perbandingan tingkatan kebudayaan

Bagaikan bagian dari kebudayaan, agama ialah aspek berarti untuk pembudayaan manusia spesialnya, serta alam semesta pada biasanya. Peter Berger menarangkan fenomena ini dengan menegaskan kalau agama ialah usaha manusiawi dengan mana sesuatu jagad raya ditegakkan. Dengan kata lain, agama merupakan upaya menghasilkan alam semesta dengan metode yang suci. Dengan kerangka pemikiran kalau agama memainkan kedudukan dominan dalam menghasilkan warga budaya serta melestarikan alam semesta hingga timbulnya ketegangan yang diakibatkan sebab perbandingan tingkatan kebudayaan tidak dapat dilepaskan dari kedudukan agama dalam sediakan nilai- nilai yang disatu sisi mendesak perkembangan pemikiran untuk pertumbuhan budaya serta disisi lain malah membatasi serta mengekang pemikiran tersebut.

Dengan demikian, gimana penganut sesuatu agama dalam menguasai dan menafsirkan ajaran- ajaran agamanya hendak sangat memastikan kemajuan ataupun kemunduran warga pemeluknya dalam mengalami fenomena kehidupan sosial yang berganti dengan sangat kilat. Salah satu kajian fenomenal terhadap fenomena ini merupakan apa yang diungkapkan secara panjang lebar oleh Max Weber tentang pengaruh protestantisme dalam mendesak timbulnya kapitalisme.

d. Permasalahan kebanyakan serta minoritas kelompok agama

Dalam sesuatu warga yang plural, permasalahan kebanyakan serta minoritas acapkali jadi aspek pemicu timbulnya konflik sosial. Paling tidak terdapat 3 perihal yang butuh dicermati dalam memandang fenomena konflik mayoritas- minoritas, ialah:( 1) agama diganti jadi sesuatu pandangan hidup;( 2) prasangka kebanyakan terhadap minoritas ataupun kebalikannya;( 3) mitos dari kebanyakan.

Sebagaimana yang biasa terjalin kalau sesuatu kelompok agama yang kebanyakan acapkali meningkatkan sesuatu wujud pandangan hidup yang bercampur dengan mitos yang penuh emosi sehingga susah buat dibedakan mana kepentingan politik serta mana kepentingan agama, sudah memunculkan sesuatu kepercayaan kalau kelompok kebanyakan inilah yang mempunyai wewenang buat melaksanakan seluruh aspek kehidupan di warga. Keadaan semacam inilah yang pada kesimpulannya acapkali menimbulkan prasangka serta aksi sewenang- wenang terhadap kelompok minoritas yang hendak bermuara pada munculnya konflik sosial.

Dari keempat wujud konflik sosial yang bermuara pada kasus keagamaan diatas, kita dapat memandang kalau betapa besar kemampuan konflik yang tercantum pada masalah- masalah keagamaan. Oleh sebab itu, telah selayaknya atensi terhadap kemampuan konflik dari agama mendapatkan atensi sungguh- sungguh, tercantum dari golongan periset sosial keagamaan dalam membagikan cerminan yang lebih perinci serta komprehensif tentang fenomena keagamaan dengan memilah perspektif sosiologis yang sangat cocok dengan kasus keagamaan yang dialami. Ketepatan memilah perspektif pasti saja hendak sanggup memperkenalkan cerminan riil dari kasus yang terdapat sehingga harapan buat menimbulkan bermacam soslusi alternative untuk pemecahan permasalahan tersebut dapat lebih maksimal.

Guna ganda agama sebagaimana yang tergambar diatas paling tidak sudah menampilkan kepada kita kalau fenomena keagamaan yang terjalin di warga ialah suatu fenomena yang begitu dinamis, tidak cuma mencakup daerah teologis, hendak namun senantiasa mengaitkan faktor- faktor lain semacam politik, ekonomi, sosial, serta budaya. Oleh sebab itu, disiplin ilmu sosiologi mempunyai kesempatan yang lumayan besar buat jadi perspektif utama dalam memandang fenomena keberagamaan secara ilmiah. Mengingat begitu berartinya posisi disiplin ilmu sosiologi buat mengatakan bermacam fenomena keagamaan secara akademik, hingga uraian yang komprehensif tentang bermacam perspektif sosiologis yang terdapat jadi sesuatu kebutuhan supaya kita tidak terjebak cuma pada perspektif- perspektif universal yang terdapat.

Tinggalkan komentar